Warga Desa Komodo menolak wacana penutupan Pulau Komodo, apalagi sampai harus diusir dari pulaunya. Dari zaman dulu sampai sekarang, itu adalah tanah kelahirannya

Penutupan Pulau Komodo merupakan wacana yang digulirkan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pada bulan Januari 2019. Hingga kini, wacana tersebut masih dibahas oleh pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Akbar, salah seorang warga Desa Komodo bersama tokoh-tokoh Desa Komodo dan perwakilan masyarakat mendatangi Jakarta. Pada Jumat (2/8) kemarin, mereka sudah tiba di Jakarta dan bertemu Dirjen KSDAE, Wiratno dan perwakilan dari Kementerian Pariwisata.

“Kami punya laporan dari tim terpadu yang menginvestigasi kondisi komodo di Pulau Komodo. Adakah indikasi penurunan ekosistem dan sebagainya. Sejauh ini, hasilnya tidak ada,” terangnya kepada tfanews.com, Selasa (6/8/2019).

Akbar menyinggung soal ide Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, yang ingin memindahkan warga Desa Komodo ke pulau lain. Asal tahu saja, ada 2.000 jiwa penduduk di Pulau Komodo yang terbagi dalam 500 KK, 1 desa, 5 dusun dan 10 RT.

“Kata Pak Gubernur, di Pulau Komodo hanya ada hak hewan, tidak ada hak manusia. Sehingga, manusia di Pulau Komodo harus dipindahkan demi habitat komodo,” terang Akbar.

“Tidak benar itu, kami dari zaman dulu sudah tinggal di Pulau Komodo jauh sebelum ada negara Indonesia, jauh sebelum ada kawasan taman nasional,” tegasnya.

Akbar pun menegaskan, kehidupan manusia di Desa Komodo tidak mengganggu habitat Si Naga Purba. Apalagi, Desa Komodo hanya menempati kawasan pesisir yang tidak luas-luas amat. Masih lebih luas tempat habitatnya komodo.

“Kami tidak pernah mengusik kehidupan komodo,” kata Akbar.

Bagi warga Desa Komodo, mereka percaya komodo adalah leluhur mereka. Di zaman dulu, ada seorang wanita yang melahirkan bayi kembar, satunya manusia dan satunya komodo. Keduanya tidak pernah saling bunuh pun hingga kini.

Apalagi, warga Desa Komodo sudah menggantungkan hidupnya di bidang pariwisata. Artinya, warganya sudah menjaga dan melestarikan alam. Supaya alam tidak rusak dan tetap terpelihara cantik, sehingga turis betah dan mau datang ke sana.

“Yang kami takutkan, ada konflik antara masyarakat dan pemerintah jika Pulau Komodo ditutup dan kami diusir ke pulau lain. Selain itu, nanti kami mau makan dan hidup dari mana,” terang Akbar.

“Sampai mati, kami tidak akan pindah dari Pulau Komodo,” pungkasnya.

Bagikan