Tangis haru Wa Sego tak terbendung saat menerima koper haji di kebunnya di Desa Lamaninggara, Kecamatan Siompu Barat, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, Rabu (10/7/2019) siang.    

Nenek yang berusia sekitar 88 tahun ini, menangis terharu, karena waktu yang dinantikan untuk berangkat haji, akhirnya terwujud. Apalagi, Wa Sego telah menabung selama 30 tahun.

Putri Wa Sego, Faazila mengatakan, Ibunya tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya menggunakan bahasa daerah dalam kesehariannya.

Menurut Faazila, niat untuk berangkat haji sangat kuat dari kedua orangtuanya, meski hanya bekerja sebagai petani. Faazila mengatakan, kedua orangtuanya pandai menghemat dan bisa menyisihkan uang dari jualan hasil kebun. 

“Kadang kalau ubinya ada hasil, sebagian disisihkan sebagian untuk digunakan.  Jadi ibu saya menyimpannya di dalam karung jagung di atas loteng rumah,” kata Faazila.

Ditinggal suami

Menurut Faazila, jika uang simpannya di rumah sudah mencapai satu juta, nenek Wa Sego akan menyuruh seorang anaknya untuk menyimpan uang di bank. 

Pada 2014, uang simpanan Wa Sego sudah mencapai Rp 51 juta. Wa Sego kemudian datang mendaftarkan haji di Kantor Kementrian Agama Buton Selatan bersama suaminya. 

Namun pada 2018, suami Wa Sego meninggal. Saat mendapat giliran berangkat haji, Wa Sego menangis sedih, karena mengingat suaminya yang seharusnya ikut menemaninya berangkat haji.

“Kalau tidak meninggal, mungkin Ibu saya sudah berangkat sama-sama dengan Bapak naik haji,” ucap Faazila. 

Faazila memohon doa, agar Ibunya dapat selamat sampai di Tanah Suci. Wa Sego akan berangkat menuju Mekah, dengan bergabung dengan jemaah calon haji lainnya di kloter 25 melalui embarkasi Makassar.

“Kami rasa sedih karena Bapak tidak ada. Bapak dan Mama sudah mendaftar haji, hanya kerena Bapak sudah meninggal tahun lalu, jadi Mama saja, rasanya sedih,” kata Faazila.

Bagikan